Di mana sebenarnya batas antara hidup dan mati? Jika kita bertanya pada Tagore, kemungkinan ia akan menjawab: Batas itu ada pada “persepsi”.
Kadambini, perempuan tua dalam cerita Tagore berjudul Jibita O’ Mrta, dianggap sudah mati oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Kremasi sudah disiapkan. Jenazah Kadambini bahkan sudah ditempatkan di rumah kremasi di dekat dangau. Kremasi hanya tinggal menunggu kayu-kayu yang sedang disiapkan.
Pada momen-momen genting itulah, Kadambini terbangun. Ia belum mati ternyata. Menyadari bahwa sudah dianggap mati oleh orang-orang, Kadambini tak punya banyak pilihan. Kembali ke kampungnya hanya akan membuat ia dianggap sebagai kutuk yang kotor, tulah yang yang mengganggu.
Dengan dada yang seperti ambruk, Kadambini untuk pertamakalinya menyadari seperti apa rasanya menjadi hantu. “Aku tidak lagi berasal dari dunia yang bernyawa. Aku menjadi sosok yang menakutkan, yang membawa sial. Aku adalah hantu bagi diriku sendiri,” Kadambini mengucapkan itu dalam batinnya sendiri, hanya ia sendiri, juga hanya untuk dirinya sendiri. Read the rest of this entry »