Aku melihatmu untuk yang kedua di sebuah meja makan sederhana. Di pojok selatan sebuah stasiun tua, sewaktu Jakarta baru saja diliputi gelap, aku berhasil melihat senyummu lagi.
Karcis sudah di tanganku. Setumpuk pekerjaan sudah menunggu di ruang kerjaku di kota yang jauh. Dan aku tahu kepergian kali tak bisa aku tarik. Seharusnya senyummu bisa memaksaku merobek segala macam karcis dan segala macam perjalanan. Semestinya senyummu sudah lebih dari cukup untuk menahan segala macam kepulangan.
Aku mencintaimu dengan semua senyum termanismu dan ikal hitam rambutmu. aku mencintaimu dengan segenap hari-harimu yang letih dan hidungmu yang bersinar seperti fajar pagi.
Tapi aku tetap harus pulang. Sebuah kepulangan yang tak bisa ditenggang.
“Jangan lihat kalau aku sedang makan. Aku tak bisa menyantap apa pun jika dilihat orang,” katamu sedikit tersipu.
Ya, aku menatapnya lama dan lekat. Sebuah tatapan yang berat yang menandai bergumpal ketakutan untuk tak bisa melihatmu lagi. Aku menoleh saat itu juga. Mencoba membuatmu nyaman dan membiarkanmu menghabiskan isi mangkuk yang kau pesan barusan.
Tapi senyum dan hidungmu seperti magnet dan mataku malam itu menjadi seperti besi berani. Aku hanya tahan beberapa menit untuk tak memandangi salah satu pahatan terbaik yang pernah dibuat Tuhan.
Dan lagi-lagi kemudian aku tertangkap basah menatapmu. “Tuh kan? Janganlah dilihat. Lihat saja yang di belakangku. Siapa tahu ada yang menarik,” katamu sedikit tersipu.
……
……
……
Aku duduk gelisah di depannya. Dan dia, duduk santai di depanku dengan ekspresi wajah yang sungguh tenang. Entah kenapa aku gelisah. Tissue aku remas-remas hingga lusuh dan menjadi bola-bola kecil. Sudah 3 tissue yang aku korbankan. Ya, aku korbankan untuk menawarkan kegelisahan yang tak terbendung ini.
Dia masih duduk tenang. Sesekali bercerita. Dan setiap kali bercerita, wajahnya seperti bercahaya. Bibir tempat senyum itu dilansir serta hidung yang sempurna membuatnya seperti “wahyu kedaton”: sinar yang membuat seorang pangeran di masa silam merasa sudah memiliki hak untuk menjadi penguasa.
Di sebuah meja makan kami bercakap-cakap, di selingi momen-momen hening dan diam yang menyayat.
Ya, di meja makan yang sederhana, pada sebuah malam, di sebuah stasiun tua yang seperti ikut berduka menyaksikan adegan meletihkan ini.
Aku memintanya menjadi rahasia kecilku. Dan dia menyanggupinya. “Aku juga akan menjadikanmu rahasia kecilku,” janjinya.
Malam ini, meja makan seperti menjadi kuburan tempat segala duka berhulu dan bermuara. Meja makan menjadi pentas di mana perkabungan dipergelarkan. Tapi di meka makan yang sederhana pulalah, sejumlah janji kecil sudah kami seberangkan ke lautan.
Di meja makan kami berpisah. Di meja makan pula kami berjanji.