Di mana sebenarnya batas antara hidup dan mati? Jika kita bertanya pada Tagore, kemungkinan ia akan menjawab: Batas itu ada pada “persepsi”.
Kadambini, perempuan tua dalam cerita Tagore berjudul Jibita O’ Mrta, dianggap sudah mati oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Kremasi sudah disiapkan. Jenazah Kadambini bahkan sudah ditempatkan di rumah kremasi di dekat dangau. Kremasi hanya tinggal menunggu kayu-kayu yang sedang disiapkan.
Pada momen-momen genting itulah, Kadambini terbangun. Ia belum mati ternyata. Menyadari bahwa sudah dianggap mati oleh orang-orang, Kadambini tak punya banyak pilihan. Kembali ke kampungnya hanya akan membuat ia dianggap sebagai kutuk yang kotor, tulah yang yang mengganggu.
Dengan dada yang seperti ambruk, Kadambini untuk pertamakalinya menyadari seperti apa rasanya menjadi hantu. “Aku tidak lagi berasal dari dunia yang bernyawa. Aku menjadi sosok yang menakutkan, yang membawa sial. Aku adalah hantu bagi diriku sendiri,” Kadambini mengucapkan itu dalam batinnya sendiri, hanya ia sendiri, juga hanya untuk dirinya sendiri.
Setelah pergi ke kota-kota yang jauh, di mana tak ada satu pun keluarga dan tetangganya bisa menemukan dirinya, Kadambini untuk pertamakalinya pulang ke kampungnya. Seperti yang sudah ia duga, orang-orang menganggapnya sebagai hantu. Ia berteriak sejadi-jadinya untuk menyatakan bahwa dirinya belum mati. Ia melukai dirinya, lalu darah menetes, tapi tetap saja tak ada yang percaya.
Hanya ada satu cara untuk membuktikan ia masih hidup, dan Kadambini melakukannya: dengan setengah histeris, ia menghambur keluar, lalu menenggelamkan diri di kolam yang dalam. Lewat kematiannya itulah Kadambini membuktikan bahwa ia belum mati.
Dipaparkan dengan sebentuk realisme yang sederhana, cerita itu mempesona karena mengingatkan saya bahwa: kematian yang paling pantas untuk ditakuti bukanlah kematian harfiah –saat nyawa meregang dari badan– tapi justru kematian saat kita masih hidup.
Dalam cerita Tagore di atas, kematian hadir sebagai sebentuk persepsi kolektif yang menusuk tanpa mengenal iba. Kematian dalam hidup juga bisa mengambil rupa yang lain. Ia bisa berbentuk pudarnya semangat hidup, punahnya keberanian, raibnya hati nurani, lenyapnya harapan atau tewasnya kepercayaan diri.
Ada kata-kata Albert Schwitzer yang bagus sekali –ijinkan saya memelesetkannya sedikit. Dokter yang pengabdiannya pada kemanusiaan membuatnya diganjar penghargaan Nobel itu berucap: Orang tidak mati karena nyawanya melayang, tapi karena ia menyerah kepada cita-citanya. Seseorang hidup sehidup kepercayaannya, tapi ia telah mati saat keputusasaan telah menguasai dirinya. Seseorang akan terus hidup sehidup harapannya, tapi ia telah mati saat keraguan telah sempurna memperkosanya.
Tapal batasnya begitu tipis. Ragu-ragu, bagi saya, seperti sekarat, atau “mati suri” dalam istilah orang Jawa. Di situlah momen krusial sedang digelar: ia akan mati saat keraguan tak pernah terselesaikan dengan baik dan malah membawanya pada situasi di mana keputusasaan menguasai dirinya seraya pada saat yang sama harapan, kepercayaan dan cita-cita justru menjauh dengan cepatnya.
Inilah barangkali yang dimaksudkan orang-orang seperti Sartre atau Camus sebagai “kematian eksistensial”.
Tentu saja tak ada yang permanen dalam jenis kematian yang ini. Seseorang bisa hidup kembali saat semua yang hilang itu tadi kembali datang. Di situ pun terdapat heroisme tersendiri: tentang seseorang yang susah payah mencoba kembali bangkit dari kematiannya.
Tapi di situlah barangkali perkaranya. Orang yang pernah mengalami “kematian eksistensial” amat boleh jadi akan mengalaminya kembali, entah untuk berapa kali lagi. Saya tidak tahu apakah saya benar atau keliru.
Tapi, jika boleh, ingin benar saya berucap: Beruntunglah orang yang hanya hidup sekali, juga mati sekali.