Archive for the 'surat cinta' Category

Di Meja Makan

August 28, 2008

Aku melihatmu untuk yang kedua di sebuah meja makan sederhana. Di pojok selatan sebuah stasiun tua, sewaktu Jakarta baru saja diliputi gelap, aku berhasil melihat senyummu lagi.

Karcis sudah di tanganku. Setumpuk pekerjaan sudah menunggu di ruang kerjaku di kota yang jauh. Dan aku tahu kepergian kali tak bisa aku tarik. Seharusnya senyummu bisa memaksaku merobek segala macam karcis dan segala macam perjalanan. Semestinya senyummu sudah lebih dari cukup untuk menahan segala macam kepulangan.

Aku mencintaimu dengan semua senyum termanismu dan ikal hitam rambutmu. aku mencintaimu dengan segenap hari-harimu yang letih dan hidungmu yang bersinar seperti fajar pagi.

Tapi aku tetap harus pulang. Sebuah kepulangan yang tak bisa ditenggang.

“Jangan lihat kalau aku sedang makan. Aku tak bisa menyantap apa pun jika dilihat orang,” katamu sedikit tersipu. Read the rest of this entry »