<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sinau dan Menjadi</title>
	<atom:link href="http://menjadiapasaja.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://menjadiapasaja.wordpress.com</link>
	<description>nrimo ing pandhum</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Sep 2008 10:08:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='menjadiapasaja.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sinau dan Menjadi</title>
		<link>http://menjadiapasaja.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://menjadiapasaja.wordpress.com/osd.xml" title="Sinau dan Menjadi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://menjadiapasaja.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mayat Hidup Kadambini</title>
		<link>http://menjadiapasaja.wordpress.com/2008/09/11/mayat-hidup-kadambini/</link>
		<comments>http://menjadiapasaja.wordpress.com/2008/09/11/mayat-hidup-kadambini/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 00:34:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menjadisinau</dc:creator>
				<category><![CDATA[khotbah di atas bukit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menjadiapasaja.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Di mana sebenarnya batas antara hidup dan mati? Jika kita bertanya pada Tagore, kemungkinan ia akan menjawab: Batas itu ada pada “persepsi”. Kadambini, perempuan tua dalam cerita Tagore berjudul Jibita O’ Mrta, dianggap sudah mati oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Kremasi sudah disiapkan. Jenazah Kadambini bahkan sudah ditempatkan di rumah kremasi di dekat dangau. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menjadiapasaja.wordpress.com&amp;blog=4814232&amp;post=7&amp;subd=menjadiapasaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di mana sebenarnya batas antara hidup dan mati? Jika kita bertanya pada Tagore, kemungkinan ia akan menjawab: Batas itu ada pada “persepsi”.</p>
<p>Kadambini, perempuan tua dalam cerita Tagore berjudul Jibita O’ Mrta, dianggap sudah mati oleh keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Kremasi sudah disiapkan. Jenazah Kadambini bahkan sudah ditempatkan di rumah kremasi di dekat dangau. Kremasi hanya tinggal menunggu kayu-kayu yang sedang disiapkan.</p>
<p>Pada momen-momen genting itulah, Kadambini terbangun. Ia belum mati ternyata. Menyadari bahwa sudah dianggap mati oleh orang-orang, Kadambini tak punya banyak pilihan. Kembali ke kampungnya hanya akan membuat ia dianggap sebagai kutuk yang kotor, tulah yang yang mengganggu.</p>
<p>Dengan dada yang seperti ambruk, Kadambini untuk pertamakalinya menyadari seperti apa rasanya menjadi hantu. “Aku tidak lagi berasal dari dunia yang bernyawa. Aku menjadi sosok yang menakutkan, yang membawa sial. Aku adalah hantu bagi diriku sendiri,” Kadambini mengucapkan itu dalam batinnya sendiri, hanya ia sendiri, juga hanya untuk dirinya sendiri.<span id="more-7"></span></p>
<p>Setelah pergi ke kota-kota yang jauh, di mana tak ada satu pun keluarga dan tetangganya bisa menemukan dirinya, Kadambini untuk pertamakalinya pulang ke kampungnya. Seperti yang sudah ia duga, orang-orang menganggapnya sebagai hantu. Ia berteriak sejadi-jadinya untuk menyatakan bahwa dirinya belum mati. Ia melukai dirinya, lalu darah menetes, tapi tetap saja tak ada yang percaya.</p>
<p>Hanya ada satu cara untuk membuktikan ia masih hidup, dan Kadambini melakukannya: dengan setengah histeris, ia menghambur keluar, lalu menenggelamkan diri di kolam yang dalam. Lewat kematiannya itulah Kadambini membuktikan bahwa ia belum mati.</p>
<p>Dipaparkan dengan sebentuk realisme yang sederhana, cerita itu mempesona karena mengingatkan saya bahwa: kematian yang paling pantas untuk ditakuti bukanlah kematian harfiah –saat nyawa meregang dari badan– tapi justru kematian saat kita masih hidup.</p>
<p>Dalam cerita Tagore di atas, kematian hadir sebagai sebentuk persepsi kolektif yang menusuk tanpa mengenal iba. Kematian dalam hidup juga bisa mengambil rupa yang lain. Ia bisa berbentuk pudarnya semangat hidup, punahnya keberanian, raibnya hati nurani, lenyapnya harapan atau tewasnya kepercayaan diri.</p>
<p>Ada kata-kata Albert Schwitzer yang bagus sekali –ijinkan saya memelesetkannya sedikit. Dokter yang pengabdiannya pada kemanusiaan membuatnya diganjar penghargaan Nobel itu berucap: Orang tidak mati karena nyawanya melayang, tapi karena ia menyerah kepada cita-citanya. Seseorang hidup sehidup kepercayaannya, tapi ia telah mati saat keputusasaan telah menguasai dirinya. Seseorang akan terus hidup sehidup harapannya, tapi ia telah mati saat keraguan telah sempurna memperkosanya.</p>
<p>Tapal batasnya begitu tipis. Ragu-ragu, bagi saya, seperti sekarat, atau “mati suri” dalam istilah orang Jawa. Di situlah momen krusial sedang digelar: ia akan mati saat keraguan tak pernah terselesaikan dengan baik dan malah membawanya pada situasi di mana keputusasaan menguasai dirinya seraya pada saat yang sama harapan, kepercayaan dan cita-cita justru menjauh dengan cepatnya.</p>
<p>Inilah barangkali yang dimaksudkan orang-orang seperti Sartre atau Camus sebagai “kematian eksistensial”.</p>
<p>Tentu saja tak ada yang permanen dalam jenis kematian yang ini. Seseorang bisa hidup kembali saat semua yang hilang itu tadi kembali datang. Di situ pun terdapat heroisme tersendiri: tentang seseorang yang susah payah mencoba kembali bangkit dari kematiannya.</p>
<p>Tapi di situlah barangkali perkaranya. Orang yang pernah mengalami “kematian eksistensial” amat boleh jadi akan mengalaminya kembali, entah untuk berapa kali lagi. Saya tidak tahu apakah saya benar atau keliru.</p>
<p>Tapi, jika boleh, ingin benar saya berucap: Beruntunglah orang yang hanya hidup sekali, juga mati sekali.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menjadiapasaja.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menjadiapasaja.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menjadiapasaja.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menjadiapasaja.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menjadiapasaja.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menjadiapasaja.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menjadiapasaja.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menjadiapasaja.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menjadiapasaja.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menjadiapasaja.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menjadiapasaja.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menjadiapasaja.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menjadiapasaja.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menjadiapasaja.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menjadiapasaja.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menjadiapasaja.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menjadiapasaja.wordpress.com&amp;blog=4814232&amp;post=7&amp;subd=menjadiapasaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menjadiapasaja.wordpress.com/2008/09/11/mayat-hidup-kadambini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f48ef6f406c91a949871de884cafc7b7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">menjadisinau</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Meja Makan</title>
		<link>http://menjadiapasaja.wordpress.com/2008/08/28/di-meja-makan/</link>
		<comments>http://menjadiapasaja.wordpress.com/2008/08/28/di-meja-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Aug 2008 00:31:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menjadisinau</dc:creator>
				<category><![CDATA[surat cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menjadiapasaja.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Aku melihatmu untuk yang kedua di sebuah meja makan sederhana. Di pojok selatan sebuah stasiun tua, sewaktu Jakarta baru saja diliputi gelap, aku berhasil melihat senyummu lagi. Karcis sudah di tanganku. Setumpuk pekerjaan sudah menunggu di ruang kerjaku di kota yang jauh. Dan aku tahu kepergian kali tak bisa aku tarik. Seharusnya senyummu bisa memaksaku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menjadiapasaja.wordpress.com&amp;blog=4814232&amp;post=5&amp;subd=menjadiapasaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku melihatmu untuk yang kedua di sebuah meja makan sederhana. Di pojok selatan sebuah stasiun tua, sewaktu Jakarta baru saja diliputi gelap, aku berhasil melihat senyummu lagi.</p>
<p>Karcis sudah di tanganku. Setumpuk pekerjaan sudah menunggu di ruang kerjaku di kota yang jauh. Dan aku tahu kepergian kali tak bisa aku tarik. Seharusnya senyummu bisa memaksaku merobek segala macam karcis dan segala macam perjalanan. Semestinya senyummu sudah lebih dari cukup untuk menahan segala macam kepulangan.</p>
<p>Aku mencintaimu dengan semua senyum termanismu dan ikal hitam rambutmu. aku mencintaimu dengan segenap hari-harimu yang letih dan hidungmu yang bersinar seperti fajar pagi.</p>
<p>Tapi aku tetap harus pulang. Sebuah kepulangan yang tak bisa ditenggang.</p>
<p>“Jangan lihat kalau aku sedang makan. Aku tak bisa menyantap apa pun jika dilihat orang,” katamu sedikit tersipu.<span id="more-5"></span></p>
<p>Ya, aku menatapnya lama dan lekat. Sebuah tatapan yang berat yang menandai bergumpal ketakutan untuk tak bisa melihatmu lagi. Aku menoleh saat itu juga. Mencoba membuatmu nyaman dan membiarkanmu menghabiskan isi mangkuk yang kau pesan barusan.</p>
<p>Tapi senyum dan hidungmu seperti magnet dan mataku malam itu menjadi seperti besi berani. Aku hanya tahan beberapa menit untuk tak memandangi salah satu pahatan terbaik yang pernah dibuat Tuhan.</p>
<p>Dan lagi-lagi kemudian aku tertangkap basah menatapmu. “Tuh kan? Janganlah dilihat. Lihat saja yang di belakangku. Siapa tahu ada yang menarik,” katamu sedikit tersipu.</p>
<p>&#8230;&#8230;<br />
&#8230;&#8230;<br />
&#8230;&#8230;</p>
<p>Aku duduk gelisah di depannya. Dan dia, duduk santai di depanku dengan ekspresi wajah yang sungguh tenang. Entah kenapa aku gelisah. Tissue aku remas-remas hingga lusuh dan menjadi bola-bola kecil. Sudah 3 tissue yang aku korbankan. Ya, aku korbankan untuk menawarkan kegelisahan yang tak terbendung ini.</p>
<p>Dia masih duduk tenang. Sesekali bercerita. Dan setiap kali bercerita, wajahnya seperti bercahaya. Bibir tempat senyum itu dilansir serta hidung yang sempurna membuatnya seperti “wahyu kedaton”: sinar yang membuat seorang pangeran di masa silam merasa sudah memiliki hak untuk menjadi penguasa.</p>
<p>Di sebuah meja makan kami bercakap-cakap, di selingi momen-momen hening dan diam yang menyayat.</p>
<p>Ya, di meja makan yang sederhana, pada sebuah malam, di sebuah stasiun tua yang seperti ikut berduka menyaksikan adegan meletihkan ini.</p>
<p>Aku memintanya menjadi rahasia kecilku. Dan dia menyanggupinya. “Aku juga akan menjadikanmu rahasia kecilku,” janjinya.</p>
<p>Malam ini, meja makan seperti menjadi kuburan tempat segala duka berhulu dan bermuara. Meja makan menjadi pentas di mana perkabungan dipergelarkan. Tapi di meka makan yang sederhana pulalah, sejumlah janji kecil sudah kami seberangkan ke lautan.</p>
<p>Di meja makan kami berpisah. Di meja makan pula kami berjanji.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menjadiapasaja.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menjadiapasaja.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menjadiapasaja.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menjadiapasaja.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menjadiapasaja.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menjadiapasaja.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menjadiapasaja.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menjadiapasaja.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menjadiapasaja.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menjadiapasaja.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menjadiapasaja.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menjadiapasaja.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menjadiapasaja.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menjadiapasaja.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menjadiapasaja.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menjadiapasaja.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menjadiapasaja.wordpress.com&amp;blog=4814232&amp;post=5&amp;subd=menjadiapasaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menjadiapasaja.wordpress.com/2008/08/28/di-meja-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f48ef6f406c91a949871de884cafc7b7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">menjadisinau</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pertamaxxx</title>
		<link>http://menjadiapasaja.wordpress.com/2008/08/26/pertamaxxx/</link>
		<comments>http://menjadiapasaja.wordpress.com/2008/08/26/pertamaxxx/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Aug 2008 00:41:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>menjadisinau</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://menjadiapasaja.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya bisa ngeblog juga. Jangan sampe ketinggalan zaman, euy. Mudah-mudahan dapat teman-teman baru. Bisa latian nulis lebih rajin. Siapa tahu dapat pacar juga. Satu lagi, kali aja bole ikut Pesta Blogger 2008. Newbie boleh ikut, toh?<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menjadiapasaja.wordpress.com&amp;blog=4814232&amp;post=10&amp;subd=menjadiapasaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya bisa ngeblog juga. Jangan sampe ketinggalan zaman, euy. Mudah-mudahan dapat teman-teman baru. Bisa latian nulis lebih rajin. Siapa tahu dapat pacar juga. Satu lagi, kali aja bole ikut Pesta Blogger 2008. Newbie boleh ikut, toh?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/menjadiapasaja.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/menjadiapasaja.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/menjadiapasaja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/menjadiapasaja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/menjadiapasaja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/menjadiapasaja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/menjadiapasaja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/menjadiapasaja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/menjadiapasaja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/menjadiapasaja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/menjadiapasaja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/menjadiapasaja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/menjadiapasaja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/menjadiapasaja.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/menjadiapasaja.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/menjadiapasaja.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=menjadiapasaja.wordpress.com&amp;blog=4814232&amp;post=10&amp;subd=menjadiapasaja&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://menjadiapasaja.wordpress.com/2008/08/26/pertamaxxx/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f48ef6f406c91a949871de884cafc7b7?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">menjadisinau</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
